Senin, 02 September 2013

POPEYE ..

Jangan salahkan aku jika rasa itu hadir kembali, bukan bermaksud menyalahkanmu tapi kali ini kau yang menebar umpan itu dan tak sengaja tertangkap olehku…

Kisah ini diawali ketika hati mulai membeku karena menunggu sebuah kepastian yang tak berujung. Mungkin sebuah kebodohan jika mampu bertahan selama itu, tapi itulah cinta. Seberat apapun rintangan yang dihadapi akan diterjang juga. Menunggu sebuah kepastian adalah tantangan tersendiri bagi para pemuja cinta. Kadang merasa yakin jika suatu saat pasti akan bersatu, tetapi kadang juga akan merasa lelah karena menunggu. Siapa yang suka menunggu?? Hampir sebagian besar tidak suka menunggu, tapi kalau menunggu sebuah kepastian terkadang masih ada saja yang melakukannya *ngetik sambil ngaca :p *.

Malam yang sepi sedikit membuatku gelisah saat itu. Hati dan fikiranku beradu argument hanya untuk melakukan hal yang sederhana yaitu menyapa. Terkadang menyapa juga butuh keberanian yang luar biasa, apalagi jika harus menyapa seseorang yang pernah singgah di hati. Antara keinginan besar yang mendorong mengatakan kata “hey” pada chatbox dan  rasa gengsi untuk menyapa lebih dulu, tapi tetap berharap dia yang memulai percakapan itu. Satu jam berlalu … ooohhh sudah dua jam berlalu dan masih belum ada tanda-tanda untuk memulai percakapan. Saat hati mulai putus asa, tiba-tiba notification di chatbox memberikan sinyal bahwa ada yang memulai percakapan malam itu. YEESSS !!! Hati sontak bersorak, yaa dia akhirnya memulai percakapan dengan mengirimkan emoticon genit yang menggoda untuk segera membalasnya. Yaaa .. percakapan malam itu dimulai lagi. Mulai dari sekedar saling meminta doa untuk kesuksesan urusan masing-masing (dia meminta didoakan untuk sukses dalam ujiannya, begitu pula aku yang minta dia untuk doain kelancaran skripsweet yang saat ini aku garap), kemudian dianjutkan dengan canda tawa, yang berujung pada percakapan serius yang tak pernah terbayangkan akan terjadi malam itu, pernikahan.

Speechless, pasti. Bingung harus bagaimana, hanya kujawab dengan tawaan. Reaksi itu ternyata tak menyelesaikan masalahku, dia seakan semakin memojokkan jiwa yang mulai gontai ini, jiwa yang mulai runtuh pertahanannya sejak pertama kali percakapan malam itu dimulai. “Mau apa nolak nikah sama aku kok malah ketawa” *no-emot and no-sign*, suddenly >> deg .. deg .. deg .. Please help me God !!! Ingin menejerit sekencang-kencangnya. Nggak .. nggak .. ini hanya bercanda pikirku tapi tetap dengan hati yang meluap-luap. Pertahanan yang kubangun dengan sekuat tenaga selama 9 tahun itu kini benar-benar runtuh lagi, rasa itu kembali seperti dulu sejak awal bertemu. Bukan sekali atau duakali dia melakukan ini, bahkan berulang. Datang memberikan begitu banyak harapan, lalu pergi saat pertahanan yang kubangun runtuh. Pertanyaan yang selalu mengganjal adalah “kenapa kamu selalu seperti ini? Tidakkah kau tau kalau itu sangat menyakitkan? Aku bukan layang-layang yang bisa ditarik ulur kapan saja.”

Kini dia menebarkan kembali umpan yang sebenarnya tak kuinginkan lagi, tapi entah mengapa umpan itu tak sengaja tertangkap lagi olehku. Hatiku mulai terjaring lagi dalam ketidakpastian untuk kesekian kalinya. Tapi kali ini keegoisan hati muncul, muncul rasa tak ingin dipersalahkan jika rasa itu hadir lagi, bukan aku yang memulainya, dia .. yaa .. dia si anak tunggal dengan rambut cepak, bermata bulat sedikit sayu, pemilik senyum yang mampu membius, sedikit keras kepala, dan tentu saja yang mampu menarikku ke dalam jurang cinta yang telah terbangun, yang mampu menjeburkan dan mengangkatku kapanpun dia mau, yang tanpa kusadari mampu membuatku bertahan untuk selalu memikirkannya selama 9 tahun ini. Aaahhh … sungguh melelahkan perjalanan ini, tapi aku juga tak mampu menghentikannya sendiri POPEYE !!!


POPEYE .. pergilah jika kau ingin pergi, jangan seperti ini. Pernah menguntai kisah denganmu dulu sudah cukup membuatku sakit, jangan lakukan lagi. Sampai kapan kisah ini akan terulang lagi?? 9 (Sembilan) tahun bukan waktu yang sedikit untukku untuk membangun dinding pertahanan itu, sebuah pertahanan untuk tidak memikirkan hal sekecil apapun tentangmu, jangan kau rusak lagi.

*ngetik sambil muter lagunya Daniel Bedingfield ~ if you’re not the one dan Judika ~ Aku yang tersakiti biar sedikit lebih dramatis* :p

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cegah Stunting, Itu Penting!

Apa itu stunting? Stunting merupakan masalah gizi kronis pada balita yang ditandai dengan tinggi badan anak tidak sesuai dengan tinggi...