Kisah
ini dimulai ketika dia memberikan sebuah tawaran kepadaku. Awalnya aku
menolaknya dengan santai namun penuh pertimbangan, yaa .. karena aku tak ingin
terikat lagi. Baru saja aku melepaskan ikatan yang kuat itu dan kini dia datang
untuk mengikatnya lagi. “Ooohh tidaaaakkk
!!!” pekikku dalam hati. Aku tak goyah untuk mempertahankan argumenku yang
kuanggap itu paling benar. Namun, apa yang terjadi?? Dia memberikan argument-
argument yang begitu menyentuh dan memberikan keyakinan hingga tak kuasa lagi
aku menolaknya. “Okee.. babak baru
dimulai lagi..” kataku dalam hati.
Sehari,
dua hari, satu minggu, se-bulan.. bertemu di pojok kantin itu cukup membuat
pandangan orang berfikir yang tidak- tidak. “Aaarrgghh
.. !!!” itu yang tak pernah aku suka. Mereka hanya men-judge dari pandangan mereka saja, tanpa ingin mencari klarifikasi
yang sesungguhnya. Awalnya aku menikamati tiap- tiap pertemuan, dan ketika ku
dengar dia berkomentar positif tentangku, aku semakin tertarik untuk masuk ke
dalam ikatan itu.
Beberapa
waktu kemudian, tak ada perbincangan yang greget, semua terasa datar. Suatu
saat, aku datang memenuhi permintaan yang menurutku mendadak , namun apa yang
terjadi?? Tak ada lagi perbincangan serius di antara kita, yang ada hanya perbincangan
asyik dia dengan setangkai bunga indah lainnya. Buru- buru aku menarik diri
dari perbincangan asyik itu, untuk apa ada di sana jika raga pun tak dianggap.
Kupinta izin untuk memutar haluan, dia mencegahnya. Sekali-dua kali- tiga kali
kuturuti pintanya, tapi sikapnya tak pernah berubah.
“Keberadaanku ibarat kain lusuh yang tak
digunakan lagi oleh pemiliknya. Bahkan sang pemilik pun mungkin lupa bahwa dia
yang membawanya ada di sini.”
Sikap
itu tak hanya sekali, namun telah berkali- kali. Hingga pada titik jenuh itu
aku mulai menjauh dari apa pun yang berhubungan dengan dia. Tak ada lagi
komunikasi, tak ada lagi tatap muka, aku membenamkan diriku ke dalam lautan
dalam hingga tak mampu lagi dia menemukanku.
Suatu
hari aku mengucapkan selamat tinggal dengan penuh keyakinan dan tekad yang
bulat, tapi lagi- lagi hatiku tergoyah dengan sikap penenangnya. Dia seperti
heroin yang mampu menyihirku, memberikan kedamaian, hingga akhirnya aku
melayang, sampai pada titik kenyamanan. Sikap itu yang membuatku tak pernah
sanggup untuk menolaknya. Tapi lagi- lagi dia kembali pada sikapnya yang
semula. Jenuh .. Capek .. tapi, slalu ada keyakinan kalau dia akan kembali dan
tak melupakan keberadaanku di sana.
Kembali
.. yaa .. dia kembali .. tapi, tiap kata yang terucap lembut darinya bagai air
yang menyejukkan itu slalu ku tepis dengan sulutan api yang entah kapan akan
padam, dan itu selalu terjadi. Pikiranku slalu meminta untuk menjauh dan pergi
darinya, tapi entah kenapa ragaku tak pernah mau beranjak dari tempatku
berdiri. “Ahh Sial !!! Kenapa begitu dan
selalu begitu ???”
Aku
berkelana untuk mencari jawaban dari pertanyaan itu, mengembara ke dalam hutan
yang awalnya gelap berubah menjadi terang dan akhirnya gelap. Tapi, jawaban itu
masih belum kutemukan. Ku telusuri pantai yang panjang, tapi yang ku temukan
hanyalah deburan ombak yang tak bersuara. Ku jelajahi padang pasir yang
terhampar, tapi tak ada satu pun yang kutemukan di sana. Kemana lagi aku harus
mengembara untuk menemukan jawaban itu .. ????????

Tidak ada komentar:
Posting Komentar