Senin, 18 Februari 2013

Tanda Tanya ( ? )



Kisah ini dimulai ketika dia memberikan sebuah tawaran kepadaku. Awalnya aku menolaknya dengan santai namun penuh pertimbangan, yaa .. karena aku tak ingin terikat lagi. Baru saja aku melepaskan ikatan yang kuat itu dan kini dia datang untuk mengikatnya lagi. “Ooohh tidaaaakkk !!!” pekikku dalam hati. Aku tak goyah untuk mempertahankan argumenku yang kuanggap itu paling benar. Namun, apa yang terjadi?? Dia memberikan argument- argument yang begitu menyentuh dan memberikan keyakinan hingga tak kuasa lagi aku menolaknya. “Okee.. babak baru dimulai lagi..” kataku dalam hati.
Sehari, dua hari, satu minggu, se-bulan.. bertemu di pojok kantin itu cukup membuat pandangan orang berfikir yang tidak- tidak. “Aaarrgghh .. !!!” itu yang tak pernah aku suka. Mereka hanya men-judge dari pandangan mereka saja, tanpa ingin mencari klarifikasi yang sesungguhnya. Awalnya aku menikamati tiap- tiap pertemuan, dan ketika ku dengar dia berkomentar positif tentangku, aku semakin tertarik untuk masuk ke dalam ikatan itu.
Beberapa waktu kemudian, tak ada perbincangan yang greget, semua terasa datar. Suatu saat, aku datang memenuhi permintaan yang menurutku mendadak , namun apa yang terjadi?? Tak ada lagi perbincangan serius di antara kita, yang ada hanya perbincangan asyik dia dengan setangkai bunga indah lainnya. Buru- buru aku menarik diri dari perbincangan asyik itu, untuk apa ada di sana jika raga pun tak dianggap. Kupinta izin untuk memutar haluan, dia mencegahnya. Sekali-dua kali- tiga kali kuturuti pintanya, tapi sikapnya tak pernah berubah.
Keberadaanku ibarat kain lusuh yang tak digunakan lagi oleh pemiliknya. Bahkan sang pemilik pun mungkin lupa bahwa dia yang membawanya ada di sini.”
Sikap itu tak hanya sekali, namun telah berkali- kali. Hingga pada titik jenuh itu aku mulai menjauh dari apa pun yang berhubungan dengan dia. Tak ada lagi komunikasi, tak ada lagi tatap muka, aku membenamkan diriku ke dalam lautan dalam hingga tak mampu lagi dia menemukanku.
Suatu hari aku mengucapkan selamat tinggal dengan penuh keyakinan dan tekad yang bulat, tapi lagi- lagi hatiku tergoyah dengan sikap penenangnya. Dia seperti heroin yang mampu menyihirku, memberikan kedamaian, hingga akhirnya aku melayang, sampai pada titik kenyamanan. Sikap itu yang membuatku tak pernah sanggup untuk menolaknya. Tapi lagi- lagi dia kembali pada sikapnya yang semula. Jenuh .. Capek .. tapi, slalu ada keyakinan kalau dia akan kembali dan tak melupakan keberadaanku di sana.
Kembali .. yaa .. dia kembali .. tapi, tiap kata yang terucap lembut darinya bagai air yang menyejukkan itu slalu ku tepis dengan sulutan api yang entah kapan akan padam, dan itu selalu terjadi. Pikiranku slalu meminta untuk menjauh dan pergi darinya, tapi entah kenapa ragaku tak pernah mau beranjak dari tempatku berdiri. “Ahh Sial !!! Kenapa begitu dan selalu begitu ???”
Aku berkelana untuk mencari jawaban dari pertanyaan itu, mengembara ke dalam hutan yang awalnya gelap berubah menjadi terang dan akhirnya gelap. Tapi, jawaban itu masih belum kutemukan. Ku telusuri pantai yang panjang, tapi yang ku temukan hanyalah deburan ombak yang tak bersuara. Ku jelajahi padang pasir yang terhampar, tapi tak ada satu pun yang kutemukan di sana. Kemana lagi aku harus mengembara untuk menemukan jawaban itu .. ????????

“JIKA WAKTU YANG MENJAWAB MAKA PERTEMUKAN AKU DENGAN WAKTU DAN RAMAL AKU, AKU DENGAN MATA KOSONG RAGA PADANYA NAMUN HATIKU BERTANYA-TANYA” (@indahivo)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cegah Stunting, Itu Penting!

Apa itu stunting? Stunting merupakan masalah gizi kronis pada balita yang ditandai dengan tinggi badan anak tidak sesuai dengan tinggi...