“Jangan salahkan aku jika rasa itu hadir
kembali, bukan bermaksud menyalahkanmu tapi kali ini kau yang menebar umpan
itu dan tak sengaja tertangkap olehku…”
Kisah ini diawali ketika hati mulai membeku karena menunggu
sebuah kepastian yang tak berujung. Mungkin sebuah kebodohan jika mampu
bertahan selama itu, tapi itulah cinta. Seberat apapun rintangan yang dihadapi
akan diterjang juga. Menunggu sebuah kepastian adalah tantangan tersendiri bagi
para pemuja cinta. Kadang merasa yakin jika suatu saat pasti akan bersatu,
tetapi kadang juga akan merasa lelah karena menunggu. Siapa yang suka
menunggu?? Hampir sebagian besar tidak suka menunggu, tapi kalau menunggu
sebuah kepastian terkadang masih ada saja yang melakukannya *ngetik sambil
ngaca :p *.
Malam yang sepi sedikit membuatku gelisah saat itu. Hati dan
fikiranku beradu argument hanya untuk melakukan hal yang sederhana yaitu
menyapa. Terkadang menyapa juga butuh keberanian yang luar biasa, apalagi jika
harus menyapa seseorang yang pernah singgah di hati. Antara keinginan besar
yang mendorong mengatakan kata “hey”
pada chatbox dan rasa gengsi untuk menyapa lebih dulu, tapi
tetap berharap dia yang memulai percakapan itu. Satu jam berlalu … ooohhh sudah
dua jam berlalu dan masih belum ada tanda-tanda untuk memulai percakapan. Saat
hati mulai putus asa, tiba-tiba notification
di chatbox memberikan sinyal bahwa
ada yang memulai percakapan malam itu. YEESSS !!! Hati sontak bersorak, yaa dia
akhirnya memulai percakapan dengan mengirimkan emoticon genit yang menggoda
untuk segera membalasnya. Yaaa .. percakapan malam itu dimulai lagi. Mulai dari
sekedar saling meminta doa untuk kesuksesan urusan masing-masing (dia meminta
didoakan untuk sukses dalam ujiannya, begitu pula aku yang minta dia untuk
doain kelancaran skripsweet yang saat ini aku garap), kemudian dianjutkan
dengan canda tawa, yang berujung pada percakapan serius yang tak pernah
terbayangkan akan terjadi malam itu, pernikahan.
Speechless, pasti.
Bingung harus bagaimana, hanya kujawab dengan tawaan. Reaksi itu ternyata tak
menyelesaikan masalahku, dia seakan semakin memojokkan jiwa yang mulai gontai
ini, jiwa yang mulai runtuh pertahanannya sejak pertama kali percakapan malam
itu dimulai. “Mau apa nolak nikah sama aku kok malah ketawa” *no-emot and no-sign*,
suddenly >> deg .. deg .. deg .. Please help me God !!!
Ingin menejerit sekencang-kencangnya. Nggak .. nggak .. ini hanya bercanda
pikirku tapi tetap dengan hati yang meluap-luap. Pertahanan yang kubangun
dengan sekuat tenaga selama 9 tahun itu kini benar-benar runtuh lagi, rasa itu
kembali seperti dulu sejak awal bertemu. Bukan sekali atau duakali dia
melakukan ini, bahkan berulang. Datang memberikan begitu banyak harapan, lalu
pergi saat pertahanan yang kubangun runtuh. Pertanyaan yang selalu mengganjal
adalah “kenapa kamu selalu seperti ini? Tidakkah kau tau kalau itu sangat
menyakitkan? Aku bukan layang-layang yang bisa ditarik ulur kapan saja.”
Kini dia menebarkan kembali umpan yang sebenarnya tak
kuinginkan lagi, tapi entah mengapa umpan itu tak sengaja tertangkap lagi
olehku. Hatiku mulai terjaring lagi dalam ketidakpastian untuk kesekian
kalinya. Tapi kali ini keegoisan hati muncul, muncul rasa tak ingin
dipersalahkan jika rasa itu hadir lagi, bukan aku yang memulainya, dia .. yaa
.. dia si anak tunggal dengan rambut cepak, bermata bulat sedikit sayu, pemilik
senyum yang mampu membius, sedikit keras kepala, dan tentu saja yang mampu
menarikku ke dalam jurang cinta yang telah terbangun, yang mampu menjeburkan
dan mengangkatku kapanpun dia mau, yang tanpa kusadari mampu membuatku bertahan
untuk selalu memikirkannya selama 9 tahun ini. Aaahhh … sungguh melelahkan
perjalanan ini, tapi aku juga tak mampu menghentikannya sendiri POPEYE !!!
POPEYE .. pergilah jika kau ingin pergi, jangan seperti ini.
Pernah menguntai kisah denganmu dulu sudah cukup membuatku sakit, jangan
lakukan lagi. Sampai kapan kisah ini akan terulang lagi?? 9 (Sembilan) tahun
bukan waktu yang sedikit untukku untuk membangun dinding pertahanan itu, sebuah
pertahanan untuk tidak memikirkan hal sekecil apapun tentangmu, jangan kau
rusak lagi.
*ngetik sambil muter lagunya Daniel Bedingfield ~ if you’re not the
one dan Judika ~ Aku yang tersakiti biar sedikit lebih dramatis* :p