Kamis, 21 Februari 2019

Cegah Stunting, Itu Penting!


Apa itu stunting?

Stunting merupakan masalah gizi kronis pada balita yang ditandai dengan tinggi badan anak tidak sesuai dengan tinggi badan sesuai usianya. Dampak yang diakibatkan oleh stunting tidak hanya terjadi pada jangka pendek melainkan dampak jangka panjang juga akan terjadi. Anak yang stunting perkembangan otaknya tidak optimal sehingga jangka panjangnya akan mengakibatkan menurunnya kemampuan kognitif, motoric yang berimbas pada menurunnya tingkat kecerdasan pada anak, apabila kemampuan kognitif serta pendidikan menurun dapat diperkirakan berkontribusi pada berkurangnya PDB (Produk Domestik Bruto) setiap tahunnya. Selain itu anak stunting dapat mengalami perkembangan organ metabolic yang tidak optimal, akibatnya pada saat dewasa memiliki risiko munculnya penyakit-penyakit kronis atau degeneratif, seperti Hipertensi, Diabetes, Obesitas, dan PJK (Penyakit Jantung Koroner).

Apa penyebabnya?


 







Beberapa hal yang dapat menyebabkan stunting :
-          * Pola asuh yang tidak optimal dan kurangnya asupan gizi dalam kurun waktu yang lama, terutama 
         pada 1000 HPK (Hari Pertama Kelahiran) :
a.       Asupan gizi pada saat hamil
b.      Pemberian kolostrum
c.       IMD (Inisiasi Menyusui Dini)
d.      Praktik pemberian ASI Eksklusif
e.      Praktik pemberian MP ASI
-          *  Terjadinya infeksi yang berulang atau status kesehatan yang rendah

Apakah Stunting itu merupakan factor keturunan?

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Dubois, et.al (2012), factor keturunan memiliki kontribusi hanya sebesar 4-7% pada wanita yang mempengaruhi tinggi badan pada saat lahir, itu artinya factor keturunan memiliki peran yang kecil terjadinya stunting. Lalu factor apa yang memberikan kontribusi besar terhadap kejadian stunting? Jawabannya adalah factor lingkungan pada saat anak lahir, yaitu 74-87% pada wanita.

Bagaimana mengatasi Stunting?

Pemerintah telah memiliki program- program khusus untuk menangani masalah stunting ini. Lalu apa yang bisa kita lakukan secara mandiri dalam pencegahan stunting ini? Salah satunya adalah dengan menerapkan pola makan yang seimbang sesuai dengan rekomendasi pedoman gizi seimbang.

Apa itu Pedoman Gizi Seimbang (PGS)?

Gizi seimbang merupakan susuna pangan sehari – hari yang mengandung zat gizi dalam jumlah dan jenis yang sesuai dengan kebutuhan tubuh, yang memperhatikan prinsip keanekaragaman pangan, aktivitas fisik, perilaku hidup bersih dan mempertahankan berat badan optimal untuk mencegah terjadinya masalah gizi (Kemenkes, 2014).
 



1.  Makanan Pokok
Makanan pokok merupakan makanan yang mengandung karbohidrat. Seperti : beras, jagung, singkong, ubi, talas, sagu, dan produk olahannya (roti, mie, pasta, dll). Kebutuhan dalam sekali makan adalah 2/3 dari ½ piring.
Makanan penukar : 150 gr nasi = 3 centong nasi = 3 buah kentang berukuran sedang (300 gr) =  1 ½  gelas mie kering (75 gr).

2. Sayuran
Sayuran merupakan sumber vitamin dan mineral yang diperlukan untuk tubuh. Kebutuhan dalam sekali makan adalah 2/3 dari ½ piring. Bisakan untuk mengkonsumsi beraneka macam sayuran setiap hari.

3.  Buah- Buahan
Buah merupakan sumber vitamin (vitamin A,B, B1, B6, C), mineral dan serat pangan. Kebutuhan dalam sekali makan adalah 1/3 dari ½ piring.
Makanan penukar : 150 gr papaya = 2 potong sedang = 2 bh jeruk ukuran sedang (110 gr) = 1 buah pisang ambon ukuran kecil (50 gr).

4. Sumber Protein/ Lauk- Pauk
Sumber protein terbagi menjadi 2 (dua), yaitu sumber protein hewani yang berasal dari hewan (daging sapi, ayam, telur, ikan, dsb) dan protein nabati (tahu, tempe, kacang merah, kacang tolo, kacang tanah, dsb). Kebutuhan dalam sekali makan adalah 1/3 dari ½ piring.
Makanan penukar :
a.    Lauk hewani, 75 gr ikan kembung = 2 ptg sdg ayam tanpa kulit (80 gr) = 1 btr telur ukuran besar ( 55 gr) = 2 ptg daging sapi ukuran sedang (70 gr).
b.      Lauk nabati, 100 gr tahu = 2 ptg sdg tempe (50 gr)

       5. Minum 8 gelas air sehari untuk mencegah dehidrasi.
       6. Aktivitas fisik yang dilakukan minimal 30 menit setiap hari.
Contoh :
a.  aktivitas fisik ringan : berjalan santai, bekerja dengan computer,membaca, menulis, menyetir, mencuci piring, menyetrika, memasak, menyapu, dsb.
b.  aktivitas fisik sedang : berjalan cepat pada permukaan yang rata, mengepel lantai, membersihkan rumah, berkebun, dsb.
        7. Mencuci tangan menggunakan sabun selama 20 detik.
        8. Rajin memantau berat badan, pemantauan dilakukan setiap bulan.





Referensi :
-        Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. 2014.
-        UNICEF, 1997 ; IFPRI 2016 ; BAPPENAS, 2018
-         Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kesehatan. 2018. Penanganan Stunting Terintegrasi Di Indonesia. http://standarpangan.pom.go.id
-        BAPPENAS. 2018. Pedoman Pelaksanaan Intervensi Penurunan Stunting Terintegrasi di Kabupaten/ Kota. http://tnp2k.go.id




Cegah Stunting, Itu Penting!

Apa itu stunting? Stunting merupakan masalah gizi kronis pada balita yang ditandai dengan tinggi badan anak tidak sesuai dengan tinggi...