Apa itu stunting?
Stunting merupakan masalah gizi
kronis pada balita yang ditandai dengan tinggi badan anak tidak sesuai dengan
tinggi badan sesuai usianya. Dampak yang diakibatkan oleh stunting tidak hanya
terjadi pada jangka pendek melainkan dampak jangka panjang juga akan terjadi.
Anak yang stunting perkembangan otaknya tidak optimal sehingga jangka
panjangnya akan mengakibatkan menurunnya kemampuan kognitif, motoric yang
berimbas pada menurunnya tingkat kecerdasan pada anak, apabila kemampuan
kognitif serta pendidikan menurun dapat diperkirakan berkontribusi pada
berkurangnya PDB (Produk Domestik Bruto) setiap tahunnya. Selain itu anak
stunting dapat mengalami perkembangan organ metabolic yang tidak optimal,
akibatnya pada saat dewasa memiliki risiko munculnya penyakit-penyakit kronis
atau degeneratif, seperti Hipertensi, Diabetes, Obesitas, dan PJK (Penyakit
Jantung Koroner).
Apa penyebabnya?
Beberapa hal yang dapat
menyebabkan stunting :
- * Pola asuh yang tidak optimal dan kurangnya asupan
gizi dalam kurun waktu yang lama, terutama
pada 1000 HPK (Hari Pertama
Kelahiran) :
a.
Asupan gizi pada saat hamil
b.
Pemberian kolostrum
c.
IMD (Inisiasi Menyusui Dini)
d.
Praktik pemberian ASI Eksklusif
e.
Praktik pemberian MP ASI
- * Terjadinya infeksi yang berulang atau status
kesehatan yang rendah
Apakah Stunting itu merupakan factor
keturunan?
Menurut penelitian yang dilakukan
oleh Dubois, et.al (2012), factor keturunan memiliki kontribusi hanya sebesar
4-7% pada wanita yang mempengaruhi tinggi badan pada saat lahir, itu artinya factor
keturunan memiliki peran yang kecil terjadinya stunting. Lalu factor apa yang
memberikan kontribusi besar terhadap kejadian stunting? Jawabannya adalah factor
lingkungan pada saat anak lahir, yaitu 74-87% pada wanita.
Bagaimana
mengatasi Stunting?
Pemerintah
telah memiliki program- program khusus untuk menangani masalah stunting ini.
Lalu apa yang bisa kita lakukan secara mandiri dalam pencegahan stunting ini? Salah
satunya adalah dengan menerapkan pola makan yang seimbang sesuai dengan
rekomendasi pedoman gizi seimbang.
Apa
itu Pedoman Gizi Seimbang (PGS)?
Gizi
seimbang merupakan susuna pangan sehari – hari yang mengandung zat gizi dalam
jumlah dan jenis yang sesuai dengan kebutuhan tubuh, yang memperhatikan prinsip
keanekaragaman pangan, aktivitas fisik, perilaku hidup bersih dan
mempertahankan berat badan optimal untuk mencegah terjadinya masalah gizi
(Kemenkes, 2014).
1. Makanan
Pokok
Makanan pokok
merupakan makanan yang mengandung karbohidrat. Seperti : beras, jagung,
singkong, ubi, talas, sagu, dan produk olahannya (roti, mie, pasta, dll).
Kebutuhan dalam sekali makan adalah 2/3 dari ½ piring.
Makanan penukar
: 150 gr nasi = 3 centong nasi = 3 buah kentang berukuran sedang (300 gr) = 1 ½ gelas mie kering (75 gr).
2. Sayuran
Sayuran
merupakan sumber vitamin dan mineral yang diperlukan untuk tubuh. Kebutuhan
dalam sekali makan adalah 2/3 dari ½ piring. Bisakan untuk mengkonsumsi
beraneka macam sayuran setiap hari.
3. Buah-
Buahan
Buah merupakan
sumber vitamin (vitamin A,B, B1, B6, C), mineral dan serat pangan. Kebutuhan
dalam sekali makan adalah 1/3 dari ½ piring.
Makanan penukar
: 150 gr papaya = 2 potong sedang = 2 bh jeruk ukuran sedang (110 gr) = 1 buah
pisang ambon ukuran kecil (50 gr).
4. Sumber
Protein/ Lauk- Pauk
Sumber protein
terbagi menjadi 2 (dua), yaitu sumber protein hewani yang berasal dari hewan
(daging sapi, ayam, telur, ikan, dsb) dan protein nabati (tahu, tempe, kacang
merah, kacang tolo, kacang tanah, dsb). Kebutuhan dalam sekali makan adalah 1/3
dari ½ piring.
Makanan penukar
:
a. Lauk hewani, 75 gr ikan kembung = 2 ptg sdg ayam
tanpa kulit (80 gr) = 1 btr telur ukuran besar ( 55 gr) = 2 ptg daging sapi
ukuran sedang (70 gr).
b.
Lauk nabati, 100 gr tahu = 2 ptg sdg tempe (50
gr)
5. Minum
8 gelas air sehari untuk mencegah dehidrasi.
6. Aktivitas
fisik yang dilakukan minimal 30 menit setiap hari.
Contoh :
a. aktivitas fisik ringan : berjalan santai,
bekerja dengan computer,membaca, menulis, menyetir, mencuci piring, menyetrika,
memasak, menyapu, dsb.
b. aktivitas fisik sedang : berjalan cepat pada
permukaan yang rata, mengepel lantai, membersihkan rumah, berkebun, dsb.
7. Mencuci
tangan menggunakan sabun selama 20 detik.
8. Rajin
memantau berat badan, pemantauan dilakukan setiap bulan.
Referensi :
- Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. 2014.
- UNICEF, 1997 ; IFPRI 2016 ; BAPPENAS, 2018
- Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kesehatan. 2018.
Penanganan Stunting Terintegrasi Di Indonesia. http://standarpangan.pom.go.id
- BAPPENAS. 2018. Pedoman Pelaksanaan Intervensi
Penurunan Stunting Terintegrasi di Kabupaten/ Kota. http://tnp2k.go.id


Tidak ada komentar:
Posting Komentar